Sumber: http://www.youtube.com/watch?v=lhAJl9Tu1M0&feature=autoplay&list=PL67184330A44E844E&index=16&playnext=2
Rasulullah s.a.w bersabda bahawa, “Di dalam jasad itu ada segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah jasad itu seluruhnya dan jika ia rosak, maka rosaklah jasad itu seluruhnya. Alaa wahiyal qalbu. Itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Friday, January 14, 2011
Hati Tempat Pandangan Allah (Bah.1) - Ustaz Zainol Asri Ramli
Sumber:
http://www.youtube.com/watch?v=3OaWlskFnes&feature=BF&list=PL67184330A44E844E&index=28
http://www.youtube.com/watch?v=3OaWlskFnes&feature=BF&list=PL67184330A44E844E&index=28
Thursday, January 13, 2011
Empat jenis racun hati
Sumber: http://cahayamukmin.blogspot.com/2010/11/ciri-ciri-hati-yang-sihat.html
Pertama: Berlebihan dalam berbicara
Kedua: Berlebihan dalam memandang
Ketiga: Berlebihan dalam makan
Keempat: Berlebihan dalam bergaul
Pertama: Berlebihan dalam berbicara
Kedua: Berlebihan dalam memandang
Ketiga: Berlebihan dalam makan
Keempat: Berlebihan dalam bergaul
Wednesday, January 12, 2011
Ciri-Ciri Hati Yang Sihat
Sumber: http://cahayamukmin.blogspot.com/2010/11/ciri-ciri-hati-yang-sihat.html
Pertama: Jika ia tertinggal wiridnya dari Al-Quran atau zikrullah, atau suatu peribadatan lainnya, maka ia merasakan sakit yang tiada terperi melebihi sakit orang yang tamak dan kikir ketika kehilangan barang kesayangannya.
Kedua: Ia sentiasa merindui untuk mengabdikan diri di jalan Allah seperti rindunya seseorang kepada orang yang amat disayangi.
Ketiga: Tujuan hidupnya hanya satu, iaitu taat kepada Allah SWT
Keempat: Bila ia sedang melakukan solat, maka hilanglah semua kegundahannya pada kenikmatan dunia yang sementara. Di dalam solat telah ia temukan kenikmatan dan kesejukan jiwa yang suci.
Kelima: Sangat menghargai waktu dan tidak mensia-siakannya, melebihi rasa kekhuatiran orang bakhil menjaga hartanya.
Keenam: Tidak pernah terputus dan malas dalam mengingati Allah.
Ketujuh: Lebih mengutamakan pada pencapaian kualiti atas suatu amalan perbuatan daripada kuantitinya. Lebih cenderung kepada keikhlasan beribadat.
Pertama: Jika ia tertinggal wiridnya dari Al-Quran atau zikrullah, atau suatu peribadatan lainnya, maka ia merasakan sakit yang tiada terperi melebihi sakit orang yang tamak dan kikir ketika kehilangan barang kesayangannya.
Kedua: Ia sentiasa merindui untuk mengabdikan diri di jalan Allah seperti rindunya seseorang kepada orang yang amat disayangi.
Ketiga: Tujuan hidupnya hanya satu, iaitu taat kepada Allah SWT
Keempat: Bila ia sedang melakukan solat, maka hilanglah semua kegundahannya pada kenikmatan dunia yang sementara. Di dalam solat telah ia temukan kenikmatan dan kesejukan jiwa yang suci.
Kelima: Sangat menghargai waktu dan tidak mensia-siakannya, melebihi rasa kekhuatiran orang bakhil menjaga hartanya.
Keenam: Tidak pernah terputus dan malas dalam mengingati Allah.
Ketujuh: Lebih mengutamakan pada pencapaian kualiti atas suatu amalan perbuatan daripada kuantitinya. Lebih cenderung kepada keikhlasan beribadat.
Saturday, January 1, 2011
Kekuatan Hati dan Akal sebagai Kunci Meraih Ilmu
Sumber: http://blogs.phys.unpad.ac.id/sahrul/pencerahan-kalbu/kekuatan-hati-dan-akal-sebagai-kunci-meraih-ilmu/
Disadari atau tidak, begitu banyak hal yang terlewatkan begitu saja dalam perjalanan hidup kita. Pengalaman pribadi maupun orang lain atau fenomena alam yang bertaburan di alam semesta seharusnya dapat dipetik menjadi hikmah/ilmu. Namun ternyata tidak banyak manusia yang dapat mengambilnya, karena hikmah hanya dapat ditangkap oleh kekuatan hati dan akal.
Allah SWT sepertinya telah sengaja menciptakan hati manusia itu mudah berbolak-balik. Disatu saat kita merasa senang, disaat yang lain kita merasa susah; disuatu waktu mudah menerima disaat yang lain begitu keras menolak. Hati cenderung tidak konsisten. Namun tentu hal tersebut bukan berarti hati itu jelek, karena memang begitulah Allah telah menciptakannya untuk kita. Kita akan tahu, bahwa dengan sifat hati yang seperti itu, hati atau kalbu manusia menjadi sensitif terhadap apa yang tidak bisa dicapai oleh akal. Bahkan melalui kalbu inilah kita dapat merasakan dan dapat berhubungan dengan Tuhan Sang Pencipta Alam, serta dapat menangkap cahaya dan petunjuk-Nya.
Hati memang berbeda dengan akal. Akal cenderung bersifat analisis untuk mencerna informasi yang diperoleh dari pancaindra. Akal cenderung hanya mengindra hal-hal yang bersifat fisik/material saja, oleh karenanya kadang kesulitan untuk memahami hal-hal yang gaib. Akal cenderung kesulitan untuk menyingkap apa-apa yang tersirat dibalik sesuatu yang tersurat di alam semesta. Dalam hal ini akal memiliki keterbatasan.
Lain halnya dengan hati, hati yang terawat dapat dengan mudah menangkap Cahaya Ilahi yang sering mampir secara tiba-tiba tanpa disertai analisis, bahkan kadang tak terpikirkan sebelumnya. Kehadirannya datang bagaikan kilat, sehingga manusia tidak dapat menolak kehadirannya, tapi juga tidak dapat mengundangnya.
Kemampuan meraih petunjuk Ilahi ini memang sangat tergantung pada kualitas hati kita. Ada yang sedemikian kuatnya sehingga mudah menerima petunjuk-Nya, tetapi ada juga yang lemah, sehingga sangat sulit menerima petunjuk-Nya. Kita sebaiknya memang memadukan antara akal yang berkualitas dengan hati yang senantiasa terawat, sehingga zikir dan pikir dapat berjalan seiring, sehingga menghasilkan sesuatu yang paling berharga nilainya yaitu ilmu/hikmah.
Akal harus senantiasa diasah dengan mengaktifkan otak untuk menganalisa atau mengobservasi, sedangkan hati harus senantiasa kita pelihara untuk meyakini akan adanya Zat Yang Maha Pencipta dibalik semua fenomena alam yang ada.
Allah, dalam surat Al-Baqarah 269 menyatakan: “Allah menganugrahkan Al-Hikmah (ilmu) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”
Wallahualambisawab.
Sumber : Buku Sentuhan Kalbu, karangan Ir. Permadi Alibasyah
Disadari atau tidak, begitu banyak hal yang terlewatkan begitu saja dalam perjalanan hidup kita. Pengalaman pribadi maupun orang lain atau fenomena alam yang bertaburan di alam semesta seharusnya dapat dipetik menjadi hikmah/ilmu. Namun ternyata tidak banyak manusia yang dapat mengambilnya, karena hikmah hanya dapat ditangkap oleh kekuatan hati dan akal.
Allah SWT sepertinya telah sengaja menciptakan hati manusia itu mudah berbolak-balik. Disatu saat kita merasa senang, disaat yang lain kita merasa susah; disuatu waktu mudah menerima disaat yang lain begitu keras menolak. Hati cenderung tidak konsisten. Namun tentu hal tersebut bukan berarti hati itu jelek, karena memang begitulah Allah telah menciptakannya untuk kita. Kita akan tahu, bahwa dengan sifat hati yang seperti itu, hati atau kalbu manusia menjadi sensitif terhadap apa yang tidak bisa dicapai oleh akal. Bahkan melalui kalbu inilah kita dapat merasakan dan dapat berhubungan dengan Tuhan Sang Pencipta Alam, serta dapat menangkap cahaya dan petunjuk-Nya.
Hati memang berbeda dengan akal. Akal cenderung bersifat analisis untuk mencerna informasi yang diperoleh dari pancaindra. Akal cenderung hanya mengindra hal-hal yang bersifat fisik/material saja, oleh karenanya kadang kesulitan untuk memahami hal-hal yang gaib. Akal cenderung kesulitan untuk menyingkap apa-apa yang tersirat dibalik sesuatu yang tersurat di alam semesta. Dalam hal ini akal memiliki keterbatasan.
Lain halnya dengan hati, hati yang terawat dapat dengan mudah menangkap Cahaya Ilahi yang sering mampir secara tiba-tiba tanpa disertai analisis, bahkan kadang tak terpikirkan sebelumnya. Kehadirannya datang bagaikan kilat, sehingga manusia tidak dapat menolak kehadirannya, tapi juga tidak dapat mengundangnya.
Kemampuan meraih petunjuk Ilahi ini memang sangat tergantung pada kualitas hati kita. Ada yang sedemikian kuatnya sehingga mudah menerima petunjuk-Nya, tetapi ada juga yang lemah, sehingga sangat sulit menerima petunjuk-Nya. Kita sebaiknya memang memadukan antara akal yang berkualitas dengan hati yang senantiasa terawat, sehingga zikir dan pikir dapat berjalan seiring, sehingga menghasilkan sesuatu yang paling berharga nilainya yaitu ilmu/hikmah.
Akal harus senantiasa diasah dengan mengaktifkan otak untuk menganalisa atau mengobservasi, sedangkan hati harus senantiasa kita pelihara untuk meyakini akan adanya Zat Yang Maha Pencipta dibalik semua fenomena alam yang ada.
Allah, dalam surat Al-Baqarah 269 menyatakan: “Allah menganugrahkan Al-Hikmah (ilmu) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”
Wallahualambisawab.
Sumber : Buku Sentuhan Kalbu, karangan Ir. Permadi Alibasyah
Subscribe to:
Posts (Atom)