Wednesday, December 29, 2010

Penyakit Hati

Sumber: http://nanunguae.multiply.com/reviews/item/2
Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Al-Imam Ibnu Abil 'Izzi
PENYAKIT HATI

Hati itu dapat hidup dan dapat mati, sehat dan sakit. Dalam hal ini, ia lebih penting dari pada tubuh.
Allah berfirman, artinya:
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya." (Al-An'am : 122)
Artinya, ia mati karena kekufuran, lalu Kami hidupkan kembali dengan keimanan. Hati yang hidup dan sehat, apabila ditawari kebatilan dan hal-hal yang buruk, dengan tabi'at dasarnya ia pasti menghindar, membenci dan tidak akan menolehnya. Lain halnya dengan hati yang mati. Ia tak dapat membedakan yang baik dan yang buruk.

Dua Bentuk Penyakit Hati:

Penyakit hati itu ada dua macam: Penyakit syahwat dan penyakit syubhat. Keduanya tersebut dalam Al-Qur'an.
Allah berfirman, artinya:
"Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melembut-lembutkan bicara) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. " (Al-Ahzab:32)
Ini yang disebut penyakit syahwat.

Allah juga berfirman, artinya:
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya..." (Al-Baqarah : 10)
Allah juga berfirman, artinya:
"Dan adapun orang yang didalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada)." (At-Taubah : 125)

Penyakit di sini adalah penyakit syubhat. Penyakit ini lebih parah daripada penyakit syahwat. Karena penyakit syahwat masih bisa diharapkan sembuh, bila syahwatnya sudah terlampiaskan. Sedangkan penyakit syubhat, tidak akan dapat sembuh, kalau Allah tidak menanggulanginya dengan limpahan rahmat-Nya.

Seringkali penyakit hati bertambah parah, namun pemiliknya tak juga menyadari. Karena ia tak sempat bahkan enggan mengetahui cara penyembuhan dan sebab-sebab (munculnya) penyakit tersebut. Bahkan terkadang hatinya sudah mati, pemiliknya belum juga sadar kalau sudah mati. Sebagai buktinya, ia sama sekali tidak merasa sakit akibat luka-luka dari berbagai perbuatan buruk. Ia juga tak merasa disusahkan dengan ketidak mengertian dirinya terhadap kebenaran, dan keyakinan-keyakinannya yang batil. "Luka, tak akan dapat membuat sakit orang mati." *). Terkadang ia juga merasakan sakitnya. Namun ia tak sanggup mencicipi dan menahan pahitnya obat. Masih bersarangnya penyakit tersebut di hatinya, berpengaruh semakin sulit dirinya menelan obat. Karena obatnya dengan melawan hawa nafsu. Itu hal yang paling berat bagi jiwanya. Namun baginya, tak ada sesuatu yang lebih bermanfaat dari obat itu. Terkadang, ia memaksa dirinya untuk bersabar. Tapi kemudian tekadnya mengendor dan bisa meneruskannya lagi. Itu karena kelemahan ilmu, keyakinan dan ketabahan. Sebagai halnya orang yang memasuki jalan angker yang akhirnya akan membawa dia ke tempat yang aman. Ia sadar, kalau ia bersabar, rasa takut itu sirna dan berganti dengan rasa aman. Ia membutuhkan kesabaran dan keyakinan yang kuat, yang dengan itu ia mampu berjalan. Kalau kesabaran dan keyakinannya mengendor, ia akan balik mundur dan tidak mampu menahan kesulitan. Apalagi kalau tidak ada teman, dan takut sendirian.

Menyembuhkan Penyakit Dengan Makanan Bergizi dan Obat:

Gejala penyakit hati adalah, ketika ia menghindari makanan-makanan yang bermanfaat bagi hatinya, lalu menggantinya dengan makanan-makanan yang tak sehat bagi hatinya. Berpaling dari obat yang berguna, menggantinya dengan obat yang berbahaya. Sedangkan makanan yang paling berguna bagi hatinya adalah makanan iman. Obat yang paling manjur adalah Al-Qur'an masing-masing memiliki gizi dan obat. Barangsiapa yang mencari kesembuhan (penyakit hati) selain dari Al-kitab dan As-sunnah, maka ia adalah orang yang paling bodoh dan sesat.
Sesungguhnya Allah berfirman:
"Katakanlah: "Al-qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-qur'an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat jauh." (Fushshilat : 44)

Al-qur'an adalah obat sempurna untuk segala penyakit tubuh dan hati, segala penyakit dunia dan akherat. Namun tak sembarangan orang mahir menggunakan Al-qur'an sebagai obat. Kalau si sakit mahir menggunakannya sebagai obat, ia letakkan pada bagian yang sakit, dengan penuh pembenaran, keimanan dan penerimaan, disertai dengan keyakinan yang kuat dan memenuhi syarat-syaratnya. Tak akan ada penyakit yang membandel. Bagaimana mungkin penyakit itu akan menentang firman Rabb langit dan bumi; yang apabila turun di atas gunung, gunung itu akan hancur, dan bila turun di bumi, bumi itu akan terbelah? Segala penyakit jasmani dan rohani, pasti terdapat dalam Al-qur'an cara memperoleh obatnya, sebab-sebab timbulnya dan cara penanggulangannya. Tentu bagi orang yang diberi kemampuan mamahami kitab-Nya.

*) [Penggalan akhir bait sya'ir Al-Mutanabbi, yang mana penggalan awalnya adalah: "Orang yang hina, akan mudah mendapat kehinaan"]

Dikutip dari: Abdul Akhir Hammad Alghunaimi, "Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah Dasar-dasar 'Aqidah Menurut Ulama Salaf", penerjemah: Abu Umar Basyir Al-Medani, Pustaka At-Tibyan, buku 2, Cetakan I, 2000, hal 264-266.

Tuesday, December 28, 2010

Ubat Hati

Berkata seorang ulama, Ibrahim Al-Khawas RA: “ Sesungguhnya ubat hati itu ada lima perkara, maka ubatilah hati kamu dengan lima perkara tersebut. Pertamanya, bacalah Al-Quran dengan menghayati isi kandunganya. Kedua, mengosongkan perut dari terlalu kenyang atau berpuasa. Ketiga, bangun ( beribadat ) di waktu malam. Keempat, menghampirkan diri kepada Allah ( beribadat ) disepertiga malam dan yang kelimanya, sentiasa bersama-sama di dalam majlis orang-orang yang soleh ”.

Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah dengan sebaik-baik penciptaan. Bermulanya dengan setitik air yang hina sehinggalah bergelar seorang insan bernama manusia. Diberikan pula berbagai-bagai nikmat yang tak ternilai banyaknya tanpa mengira siapa kita. Namun, kita sering lalai dan lupa untuk mensyukuri di atas anugerah yang dikurniakan, bahkan kita masih lagi berlumba-lumba mengejar kemewahan yang bersifat sementara itu.

Nikmat yang paling berharga dikurniakan kepada manusia ialah nikmat hati, yang merupakan raja segala gerak-geri dan tingkah-laku yang dipertontonkan oleh manusia. Hati yang diciptakan Allah semulia-mulia kejadian, di situlah akal manusia, di situlah buruk, baik, sihat, lemah manusia, di situlah segala-galanya.

Benarlah apa yang diucapkan oleh Rasulullah SAW: “ Sesungguhnya di dalam diri manusia itu ada seketul daging, jika sekiranya baik daging itu, maka baiklah seluruh diri manusia itu. Jika sekiranya buruk daging itu, maka buruklah seluruh diri manusia itu. Ketahuilah, bahawa ia adalah hati ”.

Hatilah punca segala-galanya. Jika tidak berpunca dari hati yang kotor, manusia tidak akan melakukan maksiat terhadap penciptanya. Namun, kita sentiasa tidak menghiraukan gelagat hati kita. Kita sering biarkan hati kita dikotori titik-titik hitam dan dihinggapi berbagai-bagai penyakit yang menjijikan. Lantas, hasilnya segala gerak-geri yang dipertontonkan melencong dari jalan yang dikehendaki Allah SWT.“

Al-Quran yang diturunkan kepada kita melalui insan agung SAW merupakan mukjizat yang tidak ada tolak bandingnya, bahkan ia juga sebagai ubat bagi mengubati hati yang berpenyakit. Dengan kita melazimi membacanya dan mentadabbur apa yang terkandung di dalamnya, akan memperolehi ketenangan hati yang akan menyebabkan hati sentiasa tidak lalai mengingati Allah SWT. Firman Allah SWT yang bermaksud: “ketahuilah, dengan mengingati Allah itu, hati akan tenang”.

Begitu juga dengan mengosongkan perut dari terlalu kenyang akan mengubati segala penyakit yang tersemat dihati kerana dengannya hati akan beroleh kerehatan dan meringankan untuk melakukan ibadat kepada Allah SWT serta menjauhkan dari segala penyakit yang memudaratkan. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa yang sedikit makannya, sihatlah perutnya dan bersihlah hatinya. Barangsiapa yang banyak makannya, maka sakitlah perutnya dan keraslah hatinya”.

Sabda Rasulullah SAW lagi: “ janganlah kamu matikan hati kamu dengan membanyakan makan dan minum, sesungguhnya hati itu seumpama tumbuh-tumbuhan, jika banyak disirami air maka ia akan mati ”.

Seterusnya, diantara ubat bagi mengubati hati ialah dengan sentiasa bagun malam beribadat kepada Allah SWT kerana dengannya akan menjauhkan diri kita dari tipu daya syaitan dan menjauhkan dari melakukan dosa serta mendapat keredhoan dari Allah SWT. Rasulullah SAW sentiasa mengingati ummatnya: “ hendaklah kamu bangun malam ( beribadat ) walaupun hanya mengerjakan satu rakaat sembahyang ”.

Oleh itu, bagi memastikan hati kita dalam keadaan sentiasa bersih dari segala penyakit, hendaklah kita melazimi dengan membanyakan beribadat kepada Allah disepertiga malam kerana waktu itulah Allah SWT turun ke langit dunia bagi melihat siapa diantara hambanya yang berjaga malam, beribadat kepadanya.

Begitu juga, hati akan terubat dari segala penyakit dengan sentiasa bersama-sama di dalam majlis orang-orang yang soleh. Ini akan menyebabkan sedikit sebanyak akan terikut dengan tingkah laku, perbuatan dan percakapan mereka yang sentiasa mengingati Allah SWT. Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda: “ Berkata Luqman Al-Hakim kepada anaknya, wahai anakku, sentiasalah kamu berada dalam majlis alim ulama ( orang-orang yang soleh ) dan dengarlah kata-kata hikmah dari mereka. Sesungguhnya Allah SWT akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Allah menghidupkan bumi dengan siraman hujan yang lebat ”.

Berkata seorang hukama’ : “ Sesungguhnya Allah SWT mempunyai sebuah kebun di atas dunia ini, barangsiapa yang masuk ke dalamnya maka bahagialah hidupnya. Kemudian ditanya padanya: “apakah kebun itu?, lantas dijawab bahawa kebun itu adalah majlis-majlis ilmu ( mengingati Allah ).

Begitulah di antara penawar-penawar yang digariskan oleh ulama bagi mengubati hati-hati kita dari segala penyakit yang menyebabkan gerak geri yang dipertontonkan oleh kita melencong ke arah kemurkaan Allah SWT. Mudah - mudahan kita digolongkan dikalangan hamba-hambanya yang sentiasa dalam keadaan hati bersih dari segala penyakit-penyakit yang menyebabkan kita lalai mengingati Allah SWT.

Monday, August 16, 2010

Hati bersih kembalikan cahaya iman, Islam

Sumber: http://nurjeehan.hadithuna.com/2007/05/hati-bersih-kembalikan-cahaya-iman-islam/

Tajdid Iman
Bersama Dr Juanda Jaya

SETIAP hamba pasti pernah melalui hari mendung dalam hidupnya. Ketika itu dia akan berada dalam zon iman yang lemah dan keadaan itu membuat dirinya sangat tertekan. Apakah mungkin hidupnya boleh tenang jika hubungan dia dengan Allah Taala terancam?

Banyak sebab yang menyumbang kepada keadaan seperti itu. Antaranya ialah jika kita terlalu obses terhadap dunia hingga melupakan matlamat sebenar hidup ini. Tetapi bersyukurlah kepada Allah SWT kerana hati anda masih lagi hidup dan berasa sempit apabila menyedari kealpaan yang lalu.

Anda masih memiliki semangat untuk bangkit mencari iman yang hilang. Tetapi persoalannya, di manakah kita boleh menemukan iman yang hilang itu?

Ada beberapa tempat yang boleh kita kunjungi untuk mencari keimanan sejati. Antaranya;

Di hati kita sendiri. Sesiapa yang mahu memperbaiki diri mesti melihat ke dalam lubuk hatinya. Di situlah asal mula kebaikan bercambah menjadi benih yang baik. Hati yang hidup biasanya sibuk menyoal pada tuannya, kenapa kamu lakukan itu dan ini? Untuk siapa dan apa faedahnya? Hanya ada satu zat yang dapat menguatkan hati kita, apabila kita bersandar padaNya maka hilanglah segala beban yang menyesakkan dada.

Siapakah yang kita cari jika hati terlalu sedih? Siapakah yang kita tuju jika mara bahaya telah mengepung dari segenap penjuru?

Firman Allah Taala yang bermaksud: “Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tidak ada yang dapat menolak kurniaan-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah Yunus: Ayat 107).

Hati yang sentiasa mengingati Allah SWT, di situlah akan bermula segala kebaikan tercipta. Hati yang membisikkan pada kita supaya bertaubat, melupakan segala yang berlalu dan memulakan hidup baru.

Hati adalah tempat jatuhnya pandangan Allah SWT, tempat berkumpul rahmat dan hidayah-Nya bagi mengikis segala syahwat yang melekat di dindingnya. Jika hati boleh disentuh umpama mangkuk kristal yang mahal, tuan empunya sudah tentu menjaganya dengan penuh kasih sayang. Jangan ada debu yang melekat, sentiasa dibersih dan diletak pada tempat yang aman. Tiada tangan kotor yang mampu menjamah.

Tapi sayang hati itu begitu murah pada pandangan manusia yang lalai, di biarkan retak menanti pecah berderai oleh dosa yang hitam. Masihkah ada peluang bagi kita membersih hati yang dicipta Allah SWT untuk merasai sejuta nikmat. Nikmat iman dan Islam, nikmat kebahagiaan dan ketenangan.

Al-Fudail bin Iyadh berkata: “Sesiapa yang memperbaiki hatinya kerana Allah, nescaya Dia akan memperbaiki amal perbuatanmu. Sesiapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan orang lain.”

Iman yang hilang dan kehidupan sempit itu akan segera berakhir jika kita bersedia memperbaiki hubungan kita dengan Allah Taala. Melicinkan hati dari debu yang melekat, kerana tiada seorangpun yang sanggup menderita tanpa cahaya iman.

Berbuat adil terhadap diri sendiri.

Adakalanya penyakit jasmani dan mental menyerang manusia silih berganti. Bukankah itu petanda wujudnya kezaliman yang kita lakukan pada diri sendiri? Pemakanan yang tidak seimbang dan rehat yang tidak mencukupi menjadi punca kurangnya daya kekebalan tubuh.

Tekanan dalam menempa karier dan kerjaya, hubungan yang tegang dengan orang lain menjadi sebab tekanan berlarutan. Tetapi adakah kita juga merasai antara sebab tekanan dalam hidup ini ialah tidak tersedianya ilmu yang cukup, iman yang kebal dan ibadat yang ikhlas?

Anda boleh meminta nasihat doktor pakar atau mencari ubat alternatif yang menjadi gaya hidup manusia moden seperti rileks di spa dan melanggan pelbagai terapi yang diuji keberkesanannya. Semua itu ikhtiar yang baik selagi tidak menyalahi syarak. Namun jangan mudah melupakan keperluan diri kita yang lain. Kalau hanya jasmani yang diambil berat, maka akan muncul ketidakseimbangan dalam hidup anda. Bagaimana dengan rohani sudahkah ia diubati?

Prof Dr Yusuf al-Qaradawi menyatakan dalam kitabnya Malamih Al-Mujtamak Al-Muslim: “Islam adalah agama yang realistik, ia berinteraksi dengan manusia secara keseluruhannya sama ada jasmaninya, rohaninya mahu pun akal dan perasaannya. Islam meminta agar semua perkara itu diberi santapan yang cukup dalam batasan sederhana. Jikalau riadah itu menjadi santapan jasmani, ibadat menjadi santapan rohani, ilmu menjadi santapan akal maka seni pula menjadi santapan perasaan.”

Keadilan dalam Islam cukup jelas ukurannya. Hanya manusia saja yang tidak mampu memberi kesaksamaan untuk dirinya sendiri. Ada yang terlebih mengutamakan dunia hingga melupakan agama, ramai pula yang terpukau oleh ajaran yang menyalahi asas ketulenan Islam itu sendiri.

Keadilan untuk diri kita adalah memberi hak kepada seluruh isi tubuh ini dengan sebaik-baiknya. Rasulullah SAW pernah menegur seorang sahabat yang sembahyang sepanjang malam dan berpuasa terus menerus pada siang harinya, sabda baginda SAW yang bermaksud:

“Sesungguhnya bagi jasadmu ada haknya, bagi mata mu ada haknya, bagi keluargamu ada haknya dan bagi tetamu mu ada haknya.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Tiada yang lebih menyayangi kita selain Allah Taala dan diri kita sendiri. Jalannya telah ditunjukkan oleh Rasul-Nya SAW iaitu bersihkan hati dan berbuat adil pada tubuh badan ini.

Penulis bertugas di Pejabat Mufti Sarawak

Thursday, July 22, 2010

Raja itu Bernama Hati

Penulis : Hifizah Nur
Sumber : http://kotasantri.com/pelangi/risalah/2010/03/31/raja-itu-bernama-hati

Jagalah hati / Jangan kau kotori
Jagalah hati / Lentera hidup ini
Jagalah hati / Jangan kau nodai
Jagalah hati / Cahaya Illahi

Pernahkah anda mendengar lirik lagu ini? Ya, ini adalah lirik nasyid yang dipopulerkan oleh Aa Gym beberapa tahun lalu. Dalam nasyid ini, secara garis besar meminta kita untuk menjaga kesehatan hati kita agar senantiasa bersih dari noda-noda kemaksiatan. Dengan membersihkan hati, kita akan bisa meraih kebaikan dan ketenangan hidup karena senantiasa berada di rel yang sudah digariskan oleh Allah SWT.

Secara fisik, hati adalah salah satu organ tubuh yang sangat penting dalam hidup manusia. Hati adalah pabrik kimia yang terbesar di dalam tubuh yang berfungsi membersihkan darah dari semua racun dan kotoran-kotoran. Hati juga menyimpan vitamin-vitamin yang berguna bagi tubuh dan juga menyediakan mineral yang diperlukan tubuh. Bila terjadi kerusakan di dalam hati, maka akibatnya sangat buruk bagi kehidupan manusia, bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Secara hakekat, hati adalah segumpal darah yang merupakan pusat dari panca indera manusia. Ia sangat peka, halus, dan tembus. Hati dapat melihat, tetapi tidak terlihat oleh panca indera lahir. Di dalam hadits Rasulullah, disebutkan bahwa, “Di dalam jasad itu ada sekerat daging, jika ia baik, maka baiklah jasad itu seluruhnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah jasad itu seluruhnya. Alaa wahiyal qalbu. Itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa hati itu ibarat cermin. Bila hati itu bersih, laksana sebuah cermin yang jernih yang bisa memantulkan bayangan diri yang sebenarnya. Cermin yang jernih akan secara jujur memperlihatkan kecantikan dan kekurangan di dalam penampilan seseorang. Setiap perilaku yang baik akan terlihat baik, sedangkan perilaku yang buruk akan jelas terpampang di dalam cermin hati. Sebaliknya, hati yang yang kotor ibarat cermin yang buram dan kotor. Bayangan diri tidak akan dapat terlihat jelas di dalamnya. Tidak dapat lagi terlihat dengan jelas, mana perilaku yang baik dan buruk. Semua menjadi sama saja. Hal ini membuat kemampuan diri untuk mengontrol perilaku menjadi berkurang, bahkan hilang. Tingkah laku manusia adalah cerminan dari apa yang tertanam di dalam hatinya. Bila hati bersih, maka perilaku seseorang bisa terkontrol dengan baik. Ingin membicarakan orang, hati kecilnya melarang karena itu perilaku yang menodai persaudaraan. Ingin melakukan korupsi, terbayang penderitaan orang-orang yang akan dirugikan karena tindak korupsinya. Ingin berjudi, terbayang murka Allah karena melakukan perbuatan haram tersebut. Hati yang bersih bisa mengerem seseorang dari berbuat maksiat kepada Allah.

Hati yang kotor akan tercermin dari perilaku buruk seseorang. Tidak ada lagi kontrol diri untuk menjauhi perilaku maksiat. Setiap hari melakukan keburukan. Membicarakan keburukan orang lain, mengadu domba, berjudi, meminum minuman keras, dan memakan makanan yang haram adalah santapan sehari-hari. Semakin sering maksiat dilakukan, semakin bertambah satu titik hitam di dalam hati. Akhirnya, semakin sulit hati itu tertembus oleh cahaya hidayah Allah. Semakin jauh ia masuk ke dalam kesesatan. Na'udzubillah min dzalik (kita berlindung kepada Allah dari yang sedemikian itu). Itulah sebabnya kenapa menjaga kebersihan hati itu menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Bila sudah tidak ada lagi rasa berdosa jika melakukan kemaksiatan. Jika perilaku buruk sudah sering terulang dan terulang lagi, inilah warning, agar hati kita segera dibersihkan. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) keburukan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams : 8-10).

Ada lima hal yang bisa mengotori hati, yaitu perkataan yang berlebih-lebihan, memandang yang berlebihan, bergaul dengan orang lain secara berlebihan, makan yang berlebihan, dan tidur yang berlebihan. Yang termasuk dalam perkataan yang berlebihan adalah mengucapkan sesuatu yang tidak berguna, menggunjingkan orang lain, mengadu domba, memuji seseorang yang tidak layak mendapat pujian, berdusta, mengucapkan kata-kata kotor, dan lain sebagainya. Seorang muslim harus berhati-hati dengan hal ini, karena di dalam hadits Rasulullah, banyak orang yang tergelincir masuk ke dalam neraka karena kurang bisa menjaga lidah. “Tidaklah manusia itu wajahnya dipanaskan dengan api neraka, melainkan karena akibat lidahnya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim). Oleh karena itu, penting bagi seorang muslim untuk menjaga lidahnya. Berusaha untuk hanya mengucapkan kebaikan-kebaikan dalam setiap pembicaraan adalah sebagian dari tanda keimanan seorang muslim. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Yang dimaksud dengan memandang secara berlebihan adalah memandang kepada lawan jenis yang bukan mahram dengan pandangan bebas dan disertai nafsu. Selain itu juga memandang segala sesuatu yang dapat membangkitkan syahwat. Allah SWT memerintahkan kepada para hambaNya untuk menahan sebagian dari pandangannya (QS. An-Nuur : 30-31). Menahan pandangan merupakan kunci dari memelihara diri terhadap apa-apa yang bisa menjurus kepada nafsu syahwat. Menahan pandangan juga bisa membuat seorang muslim merasakan manisnya keimanan. Mata itu adalah jendela jiwa. Rangsangan yang datang melalui mata sangat kuat pengaruhnya terhadap jiwa manusia. Ibarat sebuah kamera, mata mampu memotret apa yang dilihatnya dan disimpan dalam memori jiwa. Apa yang sudah terpotret oleh mata akan lebih sulit dihilangkan dalam ingatan, dibandingkan rangsangan yang masuk melalui indera-indera yang lain. Inilah sebabnya di dalam Islam ada perintah khusus untuk menjaga pandangan, agar apa yang tersimpan di dalam hati hanyalah kebaikan-kebaikan.

Bergaul secara berlebihan adalah hal yang dilarang dalam Islam. Berkumpul lama, berbincang-bincang tanpa tujuan, bergurau secara berlebihan bisa berpotensi buruk untuk seseorang. Berapa banyak aktifitas semacam ini yang justru merusak persaudaraan, menimbulkan perselisihan, dan mengeraskan hati. Pergaulan yang berlebihan juga bisa menyebarluaskan keburukan. Tertular narkoba atau seks bebas, karena tidak hati-hati dalam menjaga pergaulan. Oleh karena itu, di dalam Islam dianjurkan untuk berhati-hati dalam memilih teman bergaul. Karena bisa saja sahabat yang akrab di dunia saat ini, menjadi musuh di akhirat kelak. “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67). Di dalam Al-Qur’an pun digambarkan tentang penyesalan orang-orang yang salah dalam memilih teman bergaul. “Dan ingatlah hari ketika orang yang dzalim menggigit kedua tangannya seraya berkata : Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama¬sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sesungguhnya, dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al¬ Qur’an itu datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan : 27-29).

Makan secara berlebihan adalah salah satu dari syahwat perut. Syahwat yang membuat Nabi Adam dan Siti Hawa terusir dari syurga, karena mendahulukan keinginan memakan buah khuldi dari pada mentaati perintah Allah untuk menjauhinya. Bila seseorang mengikuti syahwat perutnya, maka syahwat-syahwat yang lain akan ikut menuntut untuk dipenuhi. Syahwat perut menjurus kepada syahwat kemaluan, menjurus kepada keserakahan, nafsu kekuasaan, dan saling dengki di antara sesama manusia. Sebaliknya, mengontrol syahwat perut ini menghasilkan hati yang lembut, nafsu terkendali dan emosi menjadi lemah. Oleh karena itulah, Rasulullah memerintahkan kepada setiap muslim untuk mengontrol syahwat perut ini. ”Tidaklah manusia memenuhi suatu bejana yang lebih jelek selain perutnya. Cukuplah ia memakan beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang belulangnya. Jika ia mengisi perutnya, sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk bernafasnya.” (HR. Tirmidzi).

Banyak tidur dapat menyebabkan hati menjadi mati, badan terasa lemas, waktu terbuang sia-sia, suka lupa, dan malas. Oleh karena itu, ada tidur yang dimakruhkan (tidur yang tidak membawa kemanfaatan) dan tidur yang bermanfaat. Tidur yang sangat bermanfaat adalah tidur ketika ada keinginan yang kuat untuk tidur (sangat mengantuk). Sedangkan tidur yang dimakruhkan adalah tidur setelah shalat subuh atau menjelang maghrib. Banyak tidur menghilangkan kesempatan untuk berbuat kebaikan. Menghabiskan usia untuk hal yang sia-sia, padahal waktu itu adalah kehidupan. Banyak tidur juga mengurangi usia produktif seseorang, sedangkan terlalu sedikit tidur juga mendzalimi tubuh, mengganggu kesehatan. Yang baik adalah cukup tidur, adil, dan seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia. Itulah kelima hal yang bisa mengotori hati, dan membuat hati lemah dalam menangkap cahaya kebaikan.

Selanjutnya, ada beberapa kiat yang bisa dipakai untuk menghidupkan keimanan dalam hati seorang muslim. Keimanan seorang muslim dapat dipakai untuk memutuskan setiap pilihan dalam kehidupan. Tentunya, pilihan hidup yang sesuai dengan keimanan adalah pilihan-pilihan yang sesuai dengan apa-apa yang dicintai Allah. Yang pertama adalah berdzikir kepada Allah. Banyak sekali keutamaan-keutamaan berdzikir yang bisa dirasakan oleh seseorang. Misalnya, dzikir dapat mewariskan perasaan selalu diawasi oleh Allah, menghidupkan hati, dan menimbulkan ketenangan di dalam jiwa. “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah sebanyak-banyaknya (dengan menyebut nama) Allah, dan bertasbihlah kepadanya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikatNya memohonkan ampun untukmu, supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan dan cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab : 41-43).

Yang kedua adalah membaca dan menghafal Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia. Di dalamnya terdapat obat yang bisa menyembuhkan penyakit-penyakit di dalam jiwa manusia. Al-Qur’an bisa memenuhi dahaga orang-orang yang haus akan air petunjuk kehidupan. Membacanya akan melembutkan hati dengan sentuhan-sentuhan kisah, nasihat, hukum-hukum pergaulan dengan sesama manusia dan mahluk Allah yang lainnya. Hati yang gelisah akan tentram bila berinteraksi dengan Al-Qur’an. Bukan hanya itu saja, keindahan lafadznya pun menyenangkan untuk dibaca dan dihafalkan. Oleh karena itulah Al-Qur’an mampu dihafal oleh jutaan orang, meskipun banyak di antara mereka yang tidak mengerti bahasa Arab. Itulah salah satu keajaiban dari Al-Qur’an.

Yang ketiga adalah beristighfar, memohon ampun kepada Allah. Qatadah Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an telah menunjukkan kepada kita tentang penyakit kita dan penawarnya. Adapun penyakit itu adalah dosa, sedangkan penawarnya adalah istighfar.” Seseorang yang beristighfar menunjukkan ia mengenali kesalahan, dosa, dan maksiat yang telah dilakukannya. Menunjukkan kalau ia menyesal dan bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang diperbuat. Orang yang beristighfar berarti mengharapkan pengampunan dari Allah. Dan Allah menjanjikan untuk orang-orang yang beristighfar, tidak akan diperlihatkan kesalahannya kepada orang banyak, baik di dunia maupun di akhirat.

Yang keempat adalah do'a. Allah sangat menyukai hambaNya yang meminta sesuatu kepadaNya. Karena ini berarti hambaNya mengakui kekuasaan dan kehebatan Allah dalam memberikan apa yang diharapkannya. Inilah bukti dari kerendahan hati seorang hamba kepada Tuhannya. Allah senang kepada hamba yang berdo'a melebihi seorang musafir yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir. “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku ini dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang berdo’a apabila ia memohon kepadaKu. Karena itu, hendaklah mereka memenuhi segala perintahKu.” (QS. Al-Baqarah : 186). Itulah beberapa kiat yang bisa dilakukan untuk menghidupkan keimanan di dalam hati seseorang.

Semoga tulisan ini bisa menghidupkan hati seorang muslim, agar bisa menjadi raja bagi tubuh, yang menginstruksikan kebaikan-kebaikan yang ditanam di dalamnya.
Sumber :
1. Al-Qur’anul Karim dan Terjemahan.
2. An-Nawawi, Hadits-hadits Arba’in Nawawiyyah, Era Intermedia, Solo, 2002.
3. Takariawan, Cahyadi dan Mukri, Ghazali, Kitab Tazkiyah, Metode Pembersihan Hati Aktivis Dakwah, Era Intermedia, Solo, 2003.
4. Tengku Ramly, Amir, Pumping Talent, Jakarta, Pustaka Inti, 2004.

Dari Redaksi : Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Friday, July 16, 2010

Sebab Hati Boleh Mati

Ibrahim b. Adham sedang berjalan-jalan di negeri Bashrah. Penduduk Bashrah melihatnya segera datang, dan bertanya,

"Ya Ibrahim, mengapa doa kami tidak dimakbulkan, padahal Allah telah berfirman, 'Apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka katakan bahawa aku dekat. Aku memakbulkan doa orang yang berdoa, apabila ia berdoa kepadaKu...' 2:186."

Lantas Ibrahim menjawab, "Wahai penduduk Bashrah, hal itu adalah kerana HATI kalian TELAH MATI dengan 10 perkara. Jika begitu, bagaimana ALLAH akan memakbulkan doa kalian?" "Ya Ibrahim, apakah 10 perkara itu?" Tanya penduduk Bashrah....
• Kalian kenal ALLAH tetapi tidak menunaikan hak-hakNYA.
• Kalian membaca ALQURAN tetapi tidak mengamalkan isi-isinya.
• Kalian mengakui cintai RASULULLAH tetapi tidak amalkan sunnahnya.
• Kalian mengakui membenci SYAITAN tetapi menuruti ajakannya.
• Kalian mengakui ingin masuk SYURGA tetapi tidak memenuhi syarat-syaratnya.
• Kalian mengakui ingin selamat dari api NERAKA tetapi kalian menjerumuskan diri ke dalamnya.
• Kalian meyakini kepastian KEMATIAN tetapi kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
• Kalian sibuk membicarakan KEBURUKAN ORANG tetapi kalian mengabaikan keburukan sendiri.
• Kalian MENGUBURKAN orang mati tetapi kalian tidak mengambil pengajaran daripadanya.
• Kalian mendapat NIKMAT ALLAH tetapi tidak pernah mensyukurinya.

Peringkat kuman dosa yang merosakkan hati

1) Merasa bersalah bila berbuat dosa
Pertama kali melakukan dosa, hati rasa menyesal, bersalah dan resah, kerana perbuatan jahat adalah sesuatu yang berlawanan dengan fitrah kejadian manusia yang tercipta dalam kesucian.

2) Merasa biasa bila berbuat dosa
Namun rasa berdosa tidak bertahan lama apabila dosa diulang-ulang. Rasa berdosa akan hilang sedikit demi sedikit dan hati sudah terbiasa dengan kehadiran dosa. dulu, bila berdosa temannya airmata tapi sekarang alah bisa tegal biasa. Hati rela dan tega dalam dosa.

3) Merasa seronok bila berbuat dosa
Dosa itu kuman disalut keindahan. Sesudah hati terbiasa dengan dosa maka timbul rasa seronok melakukannya. Rasa ketagih, gian, kemaruk mengulangi dosa. Dosa sudah bertukar dari racun menjadi nikmat. Dosa kini sudah bertakhta didalam dada.

4) Menjadi pembela kepada Dosa
Inilah nafsu yang tak pernah puas, begitu juga syaitan yang berjuang menghasut manusia tanpa kendur dan mundur. Dari rasa berdosa, kemudian biasa dengan dosa, kemudian seronok berbuat dosa dan akhirnya menjadi pejuang dan pembela dosa. Mereka sudah ditahap kritikal kerana mereka mempromosi, menjadi duta kepada dosa. Jika ada ahli agama menegur, maka mereka sedia bangun mempertahankan serta membela perlakuan dosa mereka (renung-renungkan ayat ini yang mana sedar tak sedar kita mempertahankan sesuatu kesalahan).


" Hati semakin sakit, semakin keras, menjadi buta, menjadi barah membawa virus munafiq, syirik dan kafir dan akhirnya hati mati "



" Oleh itu hendaklah kita berhati-hati menjaga hati "

Thursday, July 15, 2010

Petua Mencuci Hati

Dibawah ini ada beberapa cara bagaimana hendak mencuci hati.

1) Dirikan solat dan banyakkan berdo'a - Ini adalah salah satu kaedah yang sungguh berkesan. Semasa berdo'a turut katakan "Ya,Allah jadikan hatiku bersih"

2) Selawat keatas Nabi Muhammad s.a.w paling minima 100 X sebelum tidur

Ini merupakan satu pelaburan yang mudah dan murah. Disamping dosa-dosa diampunkan, otak tenang, murah rezeki, orang sayangkan kita dan mencetuskan semua perkara kebaikan.

3) Solat taubat - Selain daripada memohon keampunan, dapat mencuci hati dan menenangkan minda.

4) Membaca Al-Quran - Selain dapat mencuci hati juga menenangkan jiwa, penyembuh, penenang, terapi. Sekurang-kurangnya bacalah "Qulhu-allah" sebanyak 3X.

5) Berma'af-ma' afan sesama kawan setiap hari - Semasa meminta maaf perlu sebutkan.

6) Bisikan kepada diri perkara yang positif - Jangan sesekali mengkritik, kutuk diri sendiri, merendah-rendahkan kebolehan diri sendiri. katakanlah "Aku sebenarnya.. ....(perkara yang elok-elok belaka)

7) Program minda/cuci minda - Paling baik pada waktu malam sebelum tidur, senyum, pejam mata, katakan di dalam hati "Ya, Allah cuci otak aku, cuci hatiku, esok aku nak jadi baik, berjaya, ceria, bersemangat, aktif, positif". Menurut kajian saikologi, apa yang disebut sebelum tidur dapat dirakamkan sepanjang tidur sehingga keesokan harinya - CUBALAH!!)

8) Berpuasa - Sekiranya dalam berpuasa terhindar dari melakukan perkara-perkara kejahatan.

9) Cuba ingat tentang mati (Sekiranya hendak melakukan sesuatu kejahatan, tidak sampai hati kerana bimbang akan mati bila-bila masa)

10) Kekalkan wuduk

11) Bersedekah

12) Belanja orang makan.

13) Jaga makanan - jangan makan makanan yang subhat

14) Berkawan dengan ulama

15) Berkawan dengan orang miskin (menginsafi)

16) Pesan pada orang, jadi baik

17) Menjaga pacaindera (mata, telinga, mulut...dsb) , jangan dengar orang mengumpat."

Friday, July 9, 2010

Sekadar Renungan

Manusia : Eh, dah subuh dah?
Malaikat : bangunlah wahai anak Adam, tunaikan solat subuh mu ...
Syaitan : Alahhhhhh, kejaplah, ngantuk ini...awal lagi nie?.zzzzzzzz

Manusia : Nak makan, laparlah ??
Malaikat : Wahai Anak Adam, mulakanlah dengan Bismillah...
Syaitan : Ahh, tak payahla... dah lapar ini !! mmm.. sedapnyaaaa?

Manusia : Hari ni nak pakai apa ye?
Malaikat : Wahai anak Adam, pakailah pakaian yang menutup aurat..
Syaitan : Ehh, panaslah, takde style langsung, nampak kampung!!!

Manusia : Alamak, dah lewat!
Malaikat : Bersegeralah wahai manusia , nanti terlewat ke pejabat..
Syaitan : Ahhh?awal lagi?mmm.. aaahh? suruh si X, punchkanlah?

Manusia : Azan sudah kedengaran.. .
Malaikat : Wahai anak Adam, bersegeralah menunaikan kewajipan
Syaitan : Baru pukul berapa.. rilex lah.. awal lagi nieii?.

Manusia : Eh, eh... tak boleh tengok ini, berdosa...
Malaikat : Wahai anak Adam, alihkanlah pandanganmu, sesungguhnya Allah Maha Melihat dan mengetahui!
Syaitan : Perggghh... best tu... . rugi ooo kalau tak tengok nie..

Manusia : Saudaraku sedang melakukan dosa
Malaikat : Wahai anak Adam, cegahla ia..
Syaitan : Apa kau sibuk? Jangan jaga tepi kain orang, lantaklahh?

Manusia : Elok kalau aku sampaikan nasihat ini kepada orang lain
Malaikat : Wahai anak Adam, nasihat-menasihatil ah sesama kamu..
Syaitan : Sendiri pikirlah, semua dah besar, buat apa susah?... pandai2lah?

Manusia : aku telah berdosa..
Malaikat : Wahai anak Adam, bertaubatlah kamu,sesungguhnya Allah Maha Pengampun.
Syaitan : Tangguhlah dulu, lain kali boleh bertaubat... lagipun muda hanya sekali....rugilah. .. (kalau sempat la)

Manusia : Kalau pergi, mesti seronok!
Malaikat : Wahai anak Adam, kakimu ingin melangkah ke jalan yang dimurkai Allah, berpalinglah dari jalan itu .
Syaitan : Jangan bimbang, tiada sesiapa yang tahu... Jomlahhh?

Manusia : Uuhhh? letihnya arini.. tak solat lagi nieee?.
Malaikat : Wahai anak Adam, taatilah Allah dan RasulNYA, kebahagiaan di dunia dan akhirat untukmu. Solat itu wajib bagimu...
Syaitan : Hey anak Adam, ikutilah aku,kebahagiaan di dunia (sahaja) dan kebahagiaan diakhirat (jangan mimpi lah!) untukmu...

Thursday, March 11, 2010

Mati hati dan Hidup Hati

Sumber: http://www.facebook.com/topic.php?topic=17414&uid=172760470243


Mati Hati itu adalah kerana tiga perkara iaitu;

1. Hubbun dunia (kasihkan dunia)

2. Lalai daripada zikrullah (mengingati Allah)

3. Membanyakkan makan dan menjatuhkan anggota badan kepada maksiat kepada Allah


Hidup hati itu adalah kerana tiga perkara iaitu;

1. Zuhud dengan dunia

2. Zikrullah

3. Bergaul atau berkawan dengan aulia Allah


"Lidah orang yang berakal terletak di belakang hatinya. Hati orang yang bodoh terletak di belakang lidahnya"