Thursday, July 22, 2010

Raja itu Bernama Hati

Penulis : Hifizah Nur
Sumber : http://kotasantri.com/pelangi/risalah/2010/03/31/raja-itu-bernama-hati

Jagalah hati / Jangan kau kotori
Jagalah hati / Lentera hidup ini
Jagalah hati / Jangan kau nodai
Jagalah hati / Cahaya Illahi

Pernahkah anda mendengar lirik lagu ini? Ya, ini adalah lirik nasyid yang dipopulerkan oleh Aa Gym beberapa tahun lalu. Dalam nasyid ini, secara garis besar meminta kita untuk menjaga kesehatan hati kita agar senantiasa bersih dari noda-noda kemaksiatan. Dengan membersihkan hati, kita akan bisa meraih kebaikan dan ketenangan hidup karena senantiasa berada di rel yang sudah digariskan oleh Allah SWT.

Secara fisik, hati adalah salah satu organ tubuh yang sangat penting dalam hidup manusia. Hati adalah pabrik kimia yang terbesar di dalam tubuh yang berfungsi membersihkan darah dari semua racun dan kotoran-kotoran. Hati juga menyimpan vitamin-vitamin yang berguna bagi tubuh dan juga menyediakan mineral yang diperlukan tubuh. Bila terjadi kerusakan di dalam hati, maka akibatnya sangat buruk bagi kehidupan manusia, bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Secara hakekat, hati adalah segumpal darah yang merupakan pusat dari panca indera manusia. Ia sangat peka, halus, dan tembus. Hati dapat melihat, tetapi tidak terlihat oleh panca indera lahir. Di dalam hadits Rasulullah, disebutkan bahwa, “Di dalam jasad itu ada sekerat daging, jika ia baik, maka baiklah jasad itu seluruhnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah jasad itu seluruhnya. Alaa wahiyal qalbu. Itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa hati itu ibarat cermin. Bila hati itu bersih, laksana sebuah cermin yang jernih yang bisa memantulkan bayangan diri yang sebenarnya. Cermin yang jernih akan secara jujur memperlihatkan kecantikan dan kekurangan di dalam penampilan seseorang. Setiap perilaku yang baik akan terlihat baik, sedangkan perilaku yang buruk akan jelas terpampang di dalam cermin hati. Sebaliknya, hati yang yang kotor ibarat cermin yang buram dan kotor. Bayangan diri tidak akan dapat terlihat jelas di dalamnya. Tidak dapat lagi terlihat dengan jelas, mana perilaku yang baik dan buruk. Semua menjadi sama saja. Hal ini membuat kemampuan diri untuk mengontrol perilaku menjadi berkurang, bahkan hilang. Tingkah laku manusia adalah cerminan dari apa yang tertanam di dalam hatinya. Bila hati bersih, maka perilaku seseorang bisa terkontrol dengan baik. Ingin membicarakan orang, hati kecilnya melarang karena itu perilaku yang menodai persaudaraan. Ingin melakukan korupsi, terbayang penderitaan orang-orang yang akan dirugikan karena tindak korupsinya. Ingin berjudi, terbayang murka Allah karena melakukan perbuatan haram tersebut. Hati yang bersih bisa mengerem seseorang dari berbuat maksiat kepada Allah.

Hati yang kotor akan tercermin dari perilaku buruk seseorang. Tidak ada lagi kontrol diri untuk menjauhi perilaku maksiat. Setiap hari melakukan keburukan. Membicarakan keburukan orang lain, mengadu domba, berjudi, meminum minuman keras, dan memakan makanan yang haram adalah santapan sehari-hari. Semakin sering maksiat dilakukan, semakin bertambah satu titik hitam di dalam hati. Akhirnya, semakin sulit hati itu tertembus oleh cahaya hidayah Allah. Semakin jauh ia masuk ke dalam kesesatan. Na'udzubillah min dzalik (kita berlindung kepada Allah dari yang sedemikian itu). Itulah sebabnya kenapa menjaga kebersihan hati itu menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Bila sudah tidak ada lagi rasa berdosa jika melakukan kemaksiatan. Jika perilaku buruk sudah sering terulang dan terulang lagi, inilah warning, agar hati kita segera dibersihkan. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) keburukan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams : 8-10).

Ada lima hal yang bisa mengotori hati, yaitu perkataan yang berlebih-lebihan, memandang yang berlebihan, bergaul dengan orang lain secara berlebihan, makan yang berlebihan, dan tidur yang berlebihan. Yang termasuk dalam perkataan yang berlebihan adalah mengucapkan sesuatu yang tidak berguna, menggunjingkan orang lain, mengadu domba, memuji seseorang yang tidak layak mendapat pujian, berdusta, mengucapkan kata-kata kotor, dan lain sebagainya. Seorang muslim harus berhati-hati dengan hal ini, karena di dalam hadits Rasulullah, banyak orang yang tergelincir masuk ke dalam neraka karena kurang bisa menjaga lidah. “Tidaklah manusia itu wajahnya dipanaskan dengan api neraka, melainkan karena akibat lidahnya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim). Oleh karena itu, penting bagi seorang muslim untuk menjaga lidahnya. Berusaha untuk hanya mengucapkan kebaikan-kebaikan dalam setiap pembicaraan adalah sebagian dari tanda keimanan seorang muslim. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Yang dimaksud dengan memandang secara berlebihan adalah memandang kepada lawan jenis yang bukan mahram dengan pandangan bebas dan disertai nafsu. Selain itu juga memandang segala sesuatu yang dapat membangkitkan syahwat. Allah SWT memerintahkan kepada para hambaNya untuk menahan sebagian dari pandangannya (QS. An-Nuur : 30-31). Menahan pandangan merupakan kunci dari memelihara diri terhadap apa-apa yang bisa menjurus kepada nafsu syahwat. Menahan pandangan juga bisa membuat seorang muslim merasakan manisnya keimanan. Mata itu adalah jendela jiwa. Rangsangan yang datang melalui mata sangat kuat pengaruhnya terhadap jiwa manusia. Ibarat sebuah kamera, mata mampu memotret apa yang dilihatnya dan disimpan dalam memori jiwa. Apa yang sudah terpotret oleh mata akan lebih sulit dihilangkan dalam ingatan, dibandingkan rangsangan yang masuk melalui indera-indera yang lain. Inilah sebabnya di dalam Islam ada perintah khusus untuk menjaga pandangan, agar apa yang tersimpan di dalam hati hanyalah kebaikan-kebaikan.

Bergaul secara berlebihan adalah hal yang dilarang dalam Islam. Berkumpul lama, berbincang-bincang tanpa tujuan, bergurau secara berlebihan bisa berpotensi buruk untuk seseorang. Berapa banyak aktifitas semacam ini yang justru merusak persaudaraan, menimbulkan perselisihan, dan mengeraskan hati. Pergaulan yang berlebihan juga bisa menyebarluaskan keburukan. Tertular narkoba atau seks bebas, karena tidak hati-hati dalam menjaga pergaulan. Oleh karena itu, di dalam Islam dianjurkan untuk berhati-hati dalam memilih teman bergaul. Karena bisa saja sahabat yang akrab di dunia saat ini, menjadi musuh di akhirat kelak. “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67). Di dalam Al-Qur’an pun digambarkan tentang penyesalan orang-orang yang salah dalam memilih teman bergaul. “Dan ingatlah hari ketika orang yang dzalim menggigit kedua tangannya seraya berkata : Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama¬sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sesungguhnya, dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al¬ Qur’an itu datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan : 27-29).

Makan secara berlebihan adalah salah satu dari syahwat perut. Syahwat yang membuat Nabi Adam dan Siti Hawa terusir dari syurga, karena mendahulukan keinginan memakan buah khuldi dari pada mentaati perintah Allah untuk menjauhinya. Bila seseorang mengikuti syahwat perutnya, maka syahwat-syahwat yang lain akan ikut menuntut untuk dipenuhi. Syahwat perut menjurus kepada syahwat kemaluan, menjurus kepada keserakahan, nafsu kekuasaan, dan saling dengki di antara sesama manusia. Sebaliknya, mengontrol syahwat perut ini menghasilkan hati yang lembut, nafsu terkendali dan emosi menjadi lemah. Oleh karena itulah, Rasulullah memerintahkan kepada setiap muslim untuk mengontrol syahwat perut ini. ”Tidaklah manusia memenuhi suatu bejana yang lebih jelek selain perutnya. Cukuplah ia memakan beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang belulangnya. Jika ia mengisi perutnya, sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk bernafasnya.” (HR. Tirmidzi).

Banyak tidur dapat menyebabkan hati menjadi mati, badan terasa lemas, waktu terbuang sia-sia, suka lupa, dan malas. Oleh karena itu, ada tidur yang dimakruhkan (tidur yang tidak membawa kemanfaatan) dan tidur yang bermanfaat. Tidur yang sangat bermanfaat adalah tidur ketika ada keinginan yang kuat untuk tidur (sangat mengantuk). Sedangkan tidur yang dimakruhkan adalah tidur setelah shalat subuh atau menjelang maghrib. Banyak tidur menghilangkan kesempatan untuk berbuat kebaikan. Menghabiskan usia untuk hal yang sia-sia, padahal waktu itu adalah kehidupan. Banyak tidur juga mengurangi usia produktif seseorang, sedangkan terlalu sedikit tidur juga mendzalimi tubuh, mengganggu kesehatan. Yang baik adalah cukup tidur, adil, dan seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia. Itulah kelima hal yang bisa mengotori hati, dan membuat hati lemah dalam menangkap cahaya kebaikan.

Selanjutnya, ada beberapa kiat yang bisa dipakai untuk menghidupkan keimanan dalam hati seorang muslim. Keimanan seorang muslim dapat dipakai untuk memutuskan setiap pilihan dalam kehidupan. Tentunya, pilihan hidup yang sesuai dengan keimanan adalah pilihan-pilihan yang sesuai dengan apa-apa yang dicintai Allah. Yang pertama adalah berdzikir kepada Allah. Banyak sekali keutamaan-keutamaan berdzikir yang bisa dirasakan oleh seseorang. Misalnya, dzikir dapat mewariskan perasaan selalu diawasi oleh Allah, menghidupkan hati, dan menimbulkan ketenangan di dalam jiwa. “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah sebanyak-banyaknya (dengan menyebut nama) Allah, dan bertasbihlah kepadanya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikatNya memohonkan ampun untukmu, supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan dan cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab : 41-43).

Yang kedua adalah membaca dan menghafal Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia. Di dalamnya terdapat obat yang bisa menyembuhkan penyakit-penyakit di dalam jiwa manusia. Al-Qur’an bisa memenuhi dahaga orang-orang yang haus akan air petunjuk kehidupan. Membacanya akan melembutkan hati dengan sentuhan-sentuhan kisah, nasihat, hukum-hukum pergaulan dengan sesama manusia dan mahluk Allah yang lainnya. Hati yang gelisah akan tentram bila berinteraksi dengan Al-Qur’an. Bukan hanya itu saja, keindahan lafadznya pun menyenangkan untuk dibaca dan dihafalkan. Oleh karena itulah Al-Qur’an mampu dihafal oleh jutaan orang, meskipun banyak di antara mereka yang tidak mengerti bahasa Arab. Itulah salah satu keajaiban dari Al-Qur’an.

Yang ketiga adalah beristighfar, memohon ampun kepada Allah. Qatadah Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an telah menunjukkan kepada kita tentang penyakit kita dan penawarnya. Adapun penyakit itu adalah dosa, sedangkan penawarnya adalah istighfar.” Seseorang yang beristighfar menunjukkan ia mengenali kesalahan, dosa, dan maksiat yang telah dilakukannya. Menunjukkan kalau ia menyesal dan bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang diperbuat. Orang yang beristighfar berarti mengharapkan pengampunan dari Allah. Dan Allah menjanjikan untuk orang-orang yang beristighfar, tidak akan diperlihatkan kesalahannya kepada orang banyak, baik di dunia maupun di akhirat.

Yang keempat adalah do'a. Allah sangat menyukai hambaNya yang meminta sesuatu kepadaNya. Karena ini berarti hambaNya mengakui kekuasaan dan kehebatan Allah dalam memberikan apa yang diharapkannya. Inilah bukti dari kerendahan hati seorang hamba kepada Tuhannya. Allah senang kepada hamba yang berdo'a melebihi seorang musafir yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir. “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku ini dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang berdo’a apabila ia memohon kepadaKu. Karena itu, hendaklah mereka memenuhi segala perintahKu.” (QS. Al-Baqarah : 186). Itulah beberapa kiat yang bisa dilakukan untuk menghidupkan keimanan di dalam hati seseorang.

Semoga tulisan ini bisa menghidupkan hati seorang muslim, agar bisa menjadi raja bagi tubuh, yang menginstruksikan kebaikan-kebaikan yang ditanam di dalamnya.
Sumber :
1. Al-Qur’anul Karim dan Terjemahan.
2. An-Nawawi, Hadits-hadits Arba’in Nawawiyyah, Era Intermedia, Solo, 2002.
3. Takariawan, Cahyadi dan Mukri, Ghazali, Kitab Tazkiyah, Metode Pembersihan Hati Aktivis Dakwah, Era Intermedia, Solo, 2003.
4. Tengku Ramly, Amir, Pumping Talent, Jakarta, Pustaka Inti, 2004.

Dari Redaksi : Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

No comments:

Post a Comment